Skip navigation

Dear Blogger yang Budiman.

Karena keawaman saya pada wordpress, maka saya memutuskan memindahkan laman web ini ke alamat yang baru di http://agusr.com.

Salam,

Agus R.

ASURANSI JIWA BERASET DI ATAS RP 7.5 TRILIUN
1. PT. Prudential Life Assurance
2. PT. Asuransi Jiwa Manulife Indonesia
3. PT. AIA Financial (d/h. AIG Life)

ASURANSI JIWA BERASET 5 – 7.5 TRILIUN
1. PT. Asuransi Jiwa Sinarmas
2. PT. Asuransi Allianz Life Indonesia
3. PT. Panin Life Tbk.
4. PT. Asuransi AIA Indonesia

ASURANSI JIWA BERASET 1.5 – 5 TRILIUN
1. PT. Asuransi Jiwa Mega Life
2. PT. Axa Mandiri Financial Services
3. PT. Sun Life Financial Indonesia
4. PT. Asuransi Jiwasraya (Persero)
5. PT. Commonwealth Life
6. PT. Asuransi Jiwa Sequis Life
7. PT. Asuransi Jiwa Central Asia Raya
8. PT. Indolife Pensiontama

ASURANSI JIWA BERASET 500 MILIAR – 1.5 TRILIUN
1. PT. BNI Life Insurance
2. PT. Asuransi CIGNA
3. PT. Equity Life Indonesia
4. PT. Axa Financial Indonesia
5. PT. AXA Life Indonesia

ASURANSI JIWA BERASET DI BAWAH 500 MILIAR
1. PT. Heksa Eka Life Insurance
2. PT. MAA Life Insurance
3. PT. Anugrah Life Insurance
4. PT. Asuransi Takaful Keluarga
5. PT. Asuransi Wintherthur Life Indonesia
6. PT. Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha
7. PT. Multicor Life Insurance
8. PT. Asuransi Syari’ah Mubarakah
9. PT. Asuransi Jiwa Nusantara
10. PT. ACE Life Assurance
11. PT. Asuransi Jiwa Miralife
12. PT. Asuransi Jiwa Sequis Financial
13. PT. Pasaraya Life Insurance
14. PT. UOB Life – Sun Assurance
15. PT. Asuransi Jiwa General Indonesia

Sumber: Majalah Investor, Juli 2009

Sedari tahun 2001, meski merasa gak bakat jadi sales/marketing, berbagai product telah saya pasarkan. Dari frame, kitchen set, kopi dan product MLM lainnya hingga kursi pijat harga puluhan juta. Tapi asuransi jiwa adalah product terbaik yang pernah saya jual. Memang bukan yang paling mahal. Pun bukan yang paling mudah untuk dijual.

Kenapa saya berasumsi bahwa asuransi jiwa adalah product terbaik yang pernah saya pasarkan?

Sampai kini saya percaya bahwa peranan kita dalam kehidupan salah satunya diukur dari seberapa bermanfaat kita untuk orang lain. Apa value kita untuk keluarga, sahabat, tetangga bahkan orang yang gak dikenal sekalipun.

Asuransi jiwa [dalam hal ini telah digabung dengan investasi dan disebut unit link] mungkin hanya selembar kertas. Manfaatnya pun tidak langsung dirasakan seperti kita membeli barang elektronik. Tapi, product yang “hanya” selembar kertas ini pada saatnya bisa menjadi sebuah “mukjizat”. Ia datang saat diperlukan.

Kita lihat dari segi manfaat dasar yakni manfaat meninggal [death benefit]. Siapa sih yang bisa menghindar dari kematian? Dan “sialnya” kita gak pernah tau pasti kapan ia akan datang.

Sebuah perusahaan asuransi tidak menyediakan suami pada janda yang ditinggal meninggal suaminya, juga tak memberikan seorang ayah pada yatim yang ditinggal pergi sang ayah. Tapi asuransi menggantikan nafkah yang selalu mereka dapatkan saat sang almarhum masih ada. Jadi meski ia telah berpulang, tapi “gaya hidup” keluarga yang ditinggalkan tidak lantas otomatis “turun kelas”. Kepergian si pencari nafkah dapat tergantikan secara finansial oleh asuransi. Adakah product lain di luar sana yang memiliki manfaat seperti ini?

Sudah menjadi pameo umum bahwa kami agen asuransi “hanya” dibutuhkan saat nasabah mengalami masalah. Entah untuk keperluan penarikan dana, klaim sakit, kecelakaan atau bahkan meninggal. Itu tak menjadi masalah buat saya secara pribadi. Toh ada dan menjadi sahabat saat orang lain menderita merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya. Inilah pembeda profesi ini dengan pofesi yang lain, tentu saja tanpa bermaksud melecehkan apalagi mediskreditkan profesi lain. Toh kalau semua jadi agen asuransi repot juga kalau kita pengen cari ojek atau ingin makan bakso. Semua pensiun karena menjadi agen asuransi. Tapi mari kita buka mata, adakah profesi agen asuransi masuk list cita-cita kita saat kita masih kanak-kanak bahkan saat menginjak pendidikan jenjang atas? Saya pribadi gak pernah bercita-cita atau kepikiran menjadi agen asuransi. Saat saya sudah “malang-melintang” jadi sales sekalipun. Tapi justru pada akhirnya, saya sangat bersyukur diberi kesempatan oleh Tuhan bisa menekuni profesi ini.

Mungkin terlalu berlebihan jika saya katakan bahwa seorang agen asuransi berpacu dengan musibah. Tinggal dulu-duluan siapa yang datang. Jika kami datang lebih cepat dari musibah, tentu kami bisa memberikan bantuan untuk meringankan beban. Tapi jika kami kalah cepat dengan musibah yang datang, kami tak bisa berbuat banyak.

Dulu pun saya berfikir, jika saya tidak mengambil product ini, agen yang menawarkan saya tidak akan berkurang komisinya. Tapi nasib saya? Apakah saya telah membuat kontrak dengan Tuhan agar tidak dipanggil cepat, sakit atau kecelakaan? Ternyata product ini sangat sangat diperlukan oleh siapa saja.

Menabung sedari dini sangatlah penting. Mengasuransikan diri juga hal yang sangat penting. Pun berinvestasi dalam kondisi sulit seperti sekarang ini juga gak kalah penting. Tapi kalau bisa mendapatkan ketiga hal tersebut dalam satu paket bukankah lebih memudahkan kita?

Unit link adalah product terbaik yang pernah saya jual. Dan menjadi agen asuransi jiwa adalah profesi terbaik yang pernah saya jalani. Terimakasih Tuhan….

Banyak di antara kita yang tidak terlalu peduli terhadap rencana keuangan di masa pensiun. Padahal masa pensiun adalah sesuatu yang hampir pasti terjadi suatu saat kelak. Oleh karena itu, menyiapkan rencana keuangan di masa pensiun adalah tindakan yang sangat bijaksana.

Diasumsikan bahwa usia pensiun adalah 65 tahun. Pasa saat pensiun nanti, kita ingin berhasil mengumpulkan dana untuk membiayai masa pensiun sebesar Rp 1 miliar. Berikut ilustrasi dana yang harus kita persiapkan dengan asumsi hasil investasi yang terjadi sebesar 5 %, 10 % dan 15 % [sudah bebas pajak dan telah mempertimbangkan tingkat inflasi]:

Usia 20 tahun:
5 % = 521,811
10 % = 115,917
15 % = 23,244

Usia 30 tahun:
5 % = 922,642
10 % = 307,475
15 % = 94,571

Usia 35 tahun:
5 % = 1,254,286
10 % = 506,604
15 % = 191,683

Usia 40 tahun:
5 % = 1,746,038
10 % = 847,339
15 % = 391,617

Usia 50 tahun:
5 % = 3,861,857
10 % = 2,622,815
15 % = 1,751,421

Usia 55 tahun:
5 % = 6,625,381
10 % = 5,228,783
15 % = 4,104,339

Usia 60 tahun:
5 % = 15,081,233
10 % = 13,649,790
15 % = 12,359,629

Jika saat ini kita berusia 30 tahun, dan menginvestasikan uang kita secara berkala [regular] di instrumen investasi yang menghasilkan hasil investasi sebesar 10 %, maka kita harus menyisihkan uang sebesar Rp 307,475 setiap bulan, agar kita dapat mewujudkan impian kita untuk dapat memiliki dana Rp 1 miliar pada saat usia kita mencapai 65 tahun. Jika kita beruntung mendapatkan hasil investasi sebesar 15 %, maka kita cukup menyisihkan Rp 94,571 setiap bulannya untuk dapat menghasilkan uang senilai Rp 1 miliar pada usia 65 tahun.

Semakin dini usia kita, maka akan semakin ringan bebang uang yang harus kita sisihkan untuk dapat mewujudkan impian kita.

Pada usia 20 tahun, kita hanya perlu menyisihkan uang sebesar Rp 521,811 setiap bulan untuk mendapatkan uang senilai Rp 1 miliar pada usia 65 tahun, jika kita menginvestasikan uang kita pada instrumen investasi dengan hasil investasi sebesar 5 %. Bandingkan dengan jika kita telah berusia 50 tahun. Dibutuhkan uang sebesar Rp 3,861,857 atau lebih dari tiga juta rupiah setiap bulan agar kita dapat mewujudkan impian kita untuk memperoleh uang senilai Rp 1 miliar pada saat usia kita telah mencapai 65 tahun. Padahal di usia-usia tersebut, kita juga sedang disibukkan dengan biaya kuliah anak-anak kita atau pun biaya pernikahan mereka.

Semakin dini usia kita saat mulai menabung, semakin ringan bebas uang atau dana yang harus kita sisihkan untuk dapat mewujudkan impian masa pensiun yang indah. Jadi, mulailah menabung sedini mungkin!

#Pendapatan Premi Baru
Q1 2007 = Rp. 5.6 T
Q1 2008 = Rp. 10.0 T [^ 80 %]

#Pendapatan Premi Lanjutan
Q1 2007 = Rp. 3.1 T
Q1 2008 = Rp. 3.9 T [^ 26 %]

#Pendapatan Premi
Q1 2007 = Rp. 8.7 T
Q1 2008 = Rp. 13.9 T [^ 61.1 %]

#Nilai Invetasi
Q1 2007 = Rp. 66.5 T
Q1 2008 = Rp. 91.9 T [^ 38.4 %]

#Total Aset
Q1 2007 = Rp. 74.8 T
Q1 2008 = Rp. 102.5 T [^ 37 %]

#Instrumen Investasi [Q1/2008 - unaudited]

  • Efek – efek = Rp. 35.04 T [38.10 %]
  • Reksa Dana = Rp. 27.99 T [30.43 %]
  • Deposito = Rp. 10.11 T [10.99 %]
  • SBI = Rp. 7.23 T [7.86 %]
  • Penyertaan Langsung = Rp. 4.08 T [4.43 %]
  • SBPU = Rp. 2.84 T [3.09 %]
  • Bangunan tanah & bangunan utk investasi = Rp. 2.08 T [2.26 %]
  • Pinjaman Polis = Rp. 2.05 T [2.23 %]
  • Pinjaman Hipotik = Rp. 222.65 M [0.24 %]
  • Lain – lain = Rp. 337.01 M [0.37 %]

Pertumbuhan Unit Link
Baru = Rp. 4.8 T [^ 126 %]
Lanjutan = Rp. Rp. 1.5 T [^ 91.6 %]

Pertumbuhan Non-Unit Link
Rp. 5.2 T

Dari 40 Perusahaan Asuransi Jiwa [24 Perusahaan Jiwa Nasional dan 16 Perusahaan Jiwa Joint Venture]

Anggota AAJI = 46 Perusahaan

From: http://www.detikfinance.com/read/…..

PENDAPATAN

#Premi

  1. Premi Baru
    • Individu
      Q4 2006 = 7,168,766,306
      Q4 2007 = 10,095,215,781
      + 2,926,449,475 [^ 41 %]
    • Group
      Q4 2006 = 3,515,650,063
      Q4 2007 = 6,470,358,277
      + 2,954,708,214 [^ 84 %]
    • Unit Link
      Q4 2006 = 4,630,785,843
      Q4 2007 = 13,856,799,637
      + 9,226,013,794 [^ 199 %]
    • Anuitas
      Q4 2006 = 491,183,348
      Q4 2007 = 204,716,661
      - 286,466,687 [v 58 %]

    Total Premi Baru
    Q4 2006 = 15,806,385,560
    Q4 2007 = 30,627,090,356
    + 14,820,704,796 [^ 94 %]

  2. Premi Lanjutan
    • Individu
      Q4 2006 = 6,653,481,736
      Q4 2007 = 7,346,599,658
      + 693,117,922 [^ 10 %]
    • Group
      Q4 2006 = 1,599,467,699
      Q4 2007 = 2,170,426,239
      + 570,958,540 [^ 36 %]
    • Unit Link
      Q4 2006 = 2,159,413,132
      Q4 2007 = 4,074,644,988
      + 1,915,231,856 [^ 89 %]
    • Anuitas
      Q4 2006 = 323,567,586
      Q4 2007 = 193,458,481
      - 130,109,105 [v 40 %]

    Total Premi Lanjutan
    Q4 2006 = 10,735,930,153
    Q4 2007 = 13,785,129,366
    + 3,049,199,213 [^ 28 %]

#Pendapatan Non-Premi

  • Pendapatan Investasi
    Q4 2006 = 5,970,474,835
    Q4 2007 = 10,451,746,601
    + 4,481,271,766 [^ 75 %]
  • Pendapatan Lain
    Q4 2006 = 336,552,852
    Q4 2007 = 2,499,313,241
    + 2,162,760,389 [^ 643 %]

TOTAL PENDAPATAN
Q4 2006 = 33,072,574,269
Q4 2007 = 58,171,679,162
+ 25,099,104,893 [^ 76 %]

JUMLAH INVESTASI, TOTAL ASET & CADANGAN TEKNIS

  • Jumlah Investasi
    Q4 2006 = 60,675,858,611
    Q4 2007 = 90,953,162,092
    + 30,277,303,481 [^ 50 %]
  • Total Aset
    Q4 2006 = 66,396,397,822
    Q4 2007 = 101,170,557,966
    + 34,774,160,144 [^ 52 %]
  • Cadangan Teknis
    Q4 2006 = 54,506,092,395
    Q4 2007 = 76,493,869,775
    + 21,987,777,380 [^ 40 %]

INSTRUMEN INVESTASI [Q4/2007]

  • Efek – efek = Rp. 41.2 T [45.35 %]
  • Reksa Dana = Rp. 26.6 T [29.21 %]
  • Deposito = Rp. 10.6 T [11.67 %]
  • SBI = Rp. 4.2 T [4.6 %]
  • Penyertaan Langsung = Rp. 4.0 T [4.44 %]
  • Bangunan tanah & bangunan utk investasi = Rp. 2.0 T [2.21 %]
  • Pinjaman Polis = Rp. 1.8 T [1.94 %]
  • Pinjaman Hipotik = Rp. 206.6 M [0.23 %]
  • SBPU = Rp. 91.3 M [0.10 %]
  • Lain – lain = Rp. 232.8 M [0.26 %]

AGEN [Q4/2007]

  • Sertifikasi Grandfathering = 65,689 [49.90 %]
  • Sertifikasi Penuh = 29,945 [22.75 %]
  • Sertifikasi Sementara = 36,003 [27.35 %]

Total = 131,637

Sumber: AAJI / Kompas, 22 Mei 2008

Dari detikfinance

Selasa, 24/06/2008 14:33 WIB
43 Asuransi Dinobatkan yang Terbaik
Suhendra – detikFinance

Jakarta – Sebanyak 43 perusahaan asuransi dinobatkan sebagai yang terbaik dengan predikat sangat bagus. Ke-43 perusahaan asuransi terbaik itu merupakan unggulan dari riset 126 perusahaan asuransi.

Pemeringkat perusahaan itu dilakukan oleh Infobank. Dalam rating ini dinilai 10 kriteria di antaranya yaitu RBC, rasio likuiditas, rasio cadangan teknis dengan aktiva lancar, rasio cadangan premi dengan retensi sendiri, perubahan pendapatan premi bruto, rasio premi retensi dendiri dengan modal sendiri, rasio investasi dengan cadangan teknis ditambah utang klaim, rasio beban klaim neto dengan premi neto, rasio beban pendapatan dengan pendapatan dan rasio laba dengan modal sendiri.

Demikian dikatakan oleh Direktur Biro Riset Infobank Eko B. Supriyanto dalam acara konferensi pers rating 126 asuransi versi InfoBank 2008, di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Selasa (24/6/2008).

Perusahaan asuransi terbaik itu di antaranya adalah :

Asuransi Jiwa Predikat Bagus

Premi bruto Rp 1 triliun ke atas

1. PT Prudential Life Assurance
2. AXA Mandiri Financial Service
3. Asuransi Jiwa Manulife Indonesia
4. Asuransi Jiwa Sinarmas
5. AIG Life

Premi bruto Rp 200 miliar sampai Rp 1 Triliun

1. Asuransi Cigna
2. Commonwealth Life
3. Asuransi Jiwa Bakrie
4. Asuransi Takaful Keluarga
5. AXA Life Indonesia
6. AXA Financial Indonesia
7. Asuransi Central Asia Raya
8. Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha
9. Asuransi Jiwa Bumi Asih Jaya
10. Equity Life Indonesia

Premi bruto di bawah Rp 200 miliar

1. UOB Life Sun Assurance
2. Asuransi Jiwa Bumiartha Reksatama
3. Asuransi Jiwa Nusantara

Asuransi umum predikat sangat bagus

Premi bruto di atas Rp 200 miliar

1. Asuransi Tugu Kresna Pratama
2. Asuransi Adira Dinamika
3. Asuransi Jasaraharja Putera
4. Asuransi MSIG Indonesia
5. Asuransi Jaya Proteksi
6. Asuransi Tokio Marine Indonesia
7. Asuransi Tri Pakarta
8. Asuransi Astra Buana
9. Asuransi Central Asia

Premi Bruto Rp 50 miliar sampai Rp 200 miliar

1. Asuransi Sompo Japan Insurance Indonesia
2. Citra International Underwriter
3. Panin Insurance
4. Asuransi Mitra Maparya
5. Asuransi Maipark Indonesia
6. Asuransi Permata Nipponkoa Indonesia
7. Asuransi Umum Mega
8. Asuransi Purnaartha Nugraha
9. Asuransi Samsung Tugu
10. Asuransi Bringin Sejahtera Arthamakmur

Premi bruto di bawah Rp 50 miliar

1. Asuransi Bhakti Bhayangkara
2. Asuransi Reliance Indonesia
3. Asuransi Dharma Bangsa
4. Arthagraha General Insurance
5. Asuransi Indo Trisaka
6. Asuransi Raya

Dari total 126 perusahaan asuransi yang disurvei terdapat 1 perusahaan asuransi jiwa yang berpredikat tidak bagus, dan ada 5 perusahaan yang tidak dilakukan rating. Sedangkan untuk asuransi umum terdapat 2 perusahaan yang berpredikat tidak bagus dan 9 perusahaan yang tidak mengeluarkan laporan keuangannya karena dalam proses likuidasi.

“Biasanya perusahaan asuransi yang tidak menyampaikan laporan keuangannya adalah mereka yang raport-nya merah atau sedang dalam proses likuidasi,” ujar Eko.

Ia menambahkan dari sisi portofolio perusahaan asuransi sekarang relatif lebih baik karena menempatkan dana-dananya lebih variatif bukan hanya di deposito.

“Investasi di deposito hanya 14,45% sedangkan obligasi dan saham mencapai 28,61%, surat berharga pemerintah 18,82%, reksa dana 20,24% dan penyertaan langsung 8,09%,” paparnya.

( hen / ir )

Membaca tulisan Om Pri, meski gak kenal banget siapa beliau, dari tulisannya saja sudah terlihat kalo beliau orang yang berwawasan luas. Saya sendiri sebagai nasabah Unit Link dan kini juga sebagai agen asuransi, gak pengen membantah opini beliau atau pun mengiyakan. Setiap orang tanpa terkecuali, berhak untuk mengemukakan pendapatnya. Tapi sebelumnya, ada yang bisa kasih ke-PAsTI-an gak kalo asuransi + Reksa Dana [RD] lebih menguntungkan dibanding Unit Link? Atau saya balik, ada yang bisa kasih ke-PASTI-an kalo Unit Link lebih menguntungkan dari asuransi + RD terpisah?

Dari sudut pandang awam saya -yang masih hijau dan masih bau kencur di dunia investasi dan asuransi- serta tidak memiliki latar belakang disiplin ilmu apa pun, berpendapat kenapa sih Unit Link terlihat lebih menarik dibandingkan dengan asuransi non-Unit Link dan/atau RD?

Menurut saya, tingkat kesadaran masyarakat kita saat ini akan pentingnya asuransi [jiwa] masih rendah. Silakan saja tanya pada agen asuransi [jiwa] yang menawarkan Anda polis asuransi [jiwa] dan dengan gagahnya berorasi tentang pentingnya asuransi [jiwa], apakah jaminan kalo ia juga telah memiliki polis? Bukan saya malah mendiskreditkan rekan seperjuangan saya. Saya hanya ingin bicara realistis saja kok . Dan semoga gak muncul jawaban berupa pertanyaan balik: Apakah semua sales BMW punya mobil BMW?. Atau coba tebak, apakah orang yang telah mengasuransikan kendaraannya sudah pasti telah mengasuransikan dirinya? Lebih penting mana asuransi jiwa dibanding asuransi kendaraan? Ada yang tidak sependapat dengan saya? Silakan didebat. Saya gak akan debat balik. Ini cuma opini pribadi kok .

Di lain sisi, kesadaran kita akan investasi makin meningkat. Entah karena lapangan pekerjaan makin sulit, merasa jadi karyawan sulit untuk kaya, atau ada alasan lainnya. Yang jelas, dengan berinvestasi/berbisnis kita mengharapkan kehidupan yang lebih baik. Gak heran, sebagian dari kita mulai mengalokasikan dananya untuk berinvestasi. Berbisnis mulai kita anggarkan dalam struktur pengeluaran kita.

Kalo boleh saya gambarkan, strukur pengeluaran kita pada umumnya sbb:

atau

Gambar pertama menunjukkan bahwa seseorang mulai berfikir untuk berinvestasi meskipun ia tidak atau belum memiliki tabungan yang cukup. Sedangkan gambar kedua menunjukkan seseorang berfikir untuk berinvestasi setelah biaya hidup dan tabungan telah terpenuhi.

Di mana porsi pengeluaran untuk polis asuransi jiwa?

Mungkin asuransi jiwa bagi sebagian kita bukanlah hal yang menarik. Membicarakan kematian, kecelakaan, penyakit kritis dan/atau biaya rumah sakit, bukanlah topik yang menyenangkan untuk dibahas. Dibanding topik soal [misal] banyaknya pengguna hp dan peluang menjual pulsa.

Okelah, kita kesampingkan dahulu soal kecelakaan, penyakit kritis dan/atau biaya rumah sakit [meski survey dari WHO tahun 2002 bahwa 92% orang sebelum meninggal mengalami sakit kritis sebelumnya], kita bahas hal yang pasti akan datang. Yup, kematian [yang merupakan asuransi jiwa dasar]. Gak ada yang tau pasti kapan ia akan datang. Tapi kita sadar bahwa ia PASTI datang. Dan fakta lain berbicara bahwa kematian seorang pencari nafkah akan berakibat hilangnya sumber pendapatan bagi yang berkepentingan. Perlu sebuah JAMINAN untuk dapat menyesuaiakan diri dengan kondisi baru. Seseorang memerlukan asuransi jiwa tidak “hanya” karena ia akan meninggal, tapi juga karena orang yang ia tinggalkan harus tetap hidup bahagia. Saya pribadi lebih senang memprospek seorang tulang punggung dalam sebuah keluarga tanpa mengurangi penilaian bahwa siapa saja membutuhkan polis asuransi jiwa tanpa terkecuali.

Semisal sebuah keluarga memerlukan biaya 5 juta /bulan [= 60 juta /tahun] untuk dapat hidup layak. Andai terjadi sesuatu yang menyebabkan si pencari nafkah tidak dapat memenuhi kebutuhan ini karena sakit kritis, cacat tetap atau meninggal, perlu sesuatu agar standar kehidupan keluarga yang ditinggalkan tidak turun. Dengan cara deposito juga bisa. Anda bunga deposito 10% /tahun, si pencari nafkah setidaknya memiliki warisan 600 juta. Bunga deposito ini setidaknya bisa digunakan selama 5 – 10 tahun dengan asumsi setelah 5 – 10 tahun keluarga yang ditinggalkan sudah mampu untuk mencari penghasilan sendiri. Di sinilah Unit Link berperan. Karena angka 600 juta bagi sebagian besar masyarakat kita tentu bukan angka yang sedikit.

Dengan menyisihkan sebagian dari tabungan, maka bisa membantu secara finansial seandainya si pencari nafkah sudah gak mampu lagi untuk mencari nafkah. Entah karena sakit kritis, cacat atau meninggal. Dengan cara ini, diharapkan biaya hidup, tabungan dan/atau investasi tidak akan terganggu apapun yang terjadi dengan si pencari nafkah. Dengan menyisihkan 2 juta /bulan [24 juta /tahun], saya rasa bisa dapat Uang Pertanggungan sebesar 600 juta. Dengan cara dicicil seperti ini akan terasa lebih ringan jika dibandingkan kita harus mempersiapkan uang 600 juta sekaligus. Dan jika si pencari nafkah mengalami hal yang tidak diinginkan setelah tahun pertama menabung, maka “warisan” yang didapat keluarganya akan lebih besar karena Nilai Tunai telah terbentuk. Jika ia toh panjang umur, tetap ia tida akan “rugi”. Malah uang yang ditabung akan dapat kembali [BEP]. Tentu dari hasil investasi Unit Link ini.

Di tempat saya juga masih tersedia kok asuransi tradisional [non-Unit Link]. Tapi jujur, sampai saat tulisan ini saya buat, saya belum pernah menjualnya. Mungkin karena asuransi ini kurang menarik dibandingkan dengan Unit Link .

Sebagai sahabat [yang jika sama-sama panjang umur akan mendampingi mereka sampai usia 99 tahun], saya gak pernah menghalangi nasabah ataupun calon nasabah untuk membeli asuransi non-Unit Link + RD secara terpisah. Silakan saja . Ini hanya soal selera. Ibarat ayam goreng dengan tepung, ada yang lebih suka ayam goreng yang ditepungi tapi ada juga yang lebih suka ayam goreng + tepung goreng [contohlah bakwan] secara terpisah. Contohnya kurang oke ya? Gimana dengan kopi susu dan kopi + susu terpisah? Mana yang lebih menguntungkan? Mana yang lebih enak? Ayam goreng ditepungi / kopi susu? Atau ayam goreng + tepung goreng / kopi + susu terpisah? Masing-masing punya argumen. Gak ada yang bersifat absolut seperti 1 + 1 PASTI = 2. Meski bisnis/investasi bersifat itung-itungan, tapi hasilnya sulit dipastikan seperti ilmu matematika.

Bukan untuk menggurui. Hanya opini pribadi. Semoga membantu.

26/06/2008 23:09:22 WIB
Oleh Karidun Pardosi

JAKARTA, Investor Daily

Sebelas perusahaan asuransi nasional meraih kinerja terbaik dan predikat asuransi terbaik 2008 versi Majalah Investor. Satu perusahaan asuransi meraih golden award atas prestasi selama lima tahun berturut-turut menjadi terbaik di kelompoknya.

PT Asuransi Astra Buana terpilih terbaik untuk kategori asuransi umum beraset di atas Rp 1 triliun dan PT Asuransi Jaya Proteksi terbaik untuk kategori aset di atas Rp 200 miliar hingga Rp 1 triliun. Sedangkan PT Asuransi Bringin Sejahtera Artamakmur teratas dalam kelompok aset di atas Rp 100-Rp 200 miliar dan PT Asuransi Tugu Kresna Pratama teratas untuk kategori aset di bawah Rp 100 miliar.

Sementara itu, untuk kelompok asuransi jiwa, PT Prudential Life Assurance menempati posisi teratas dari kategori aset di atas Rp 7,5 triliun. PT Asuransi Jiwa Sinarmas tertinggi untuk kategori aset di atas Rp 5–7,5 triliun. Kategori aset di atas Rp 1,5-5 triliun diraih oleh PT Asuransi Jiwa Mega Life. PT Asuransi Jiwa Bakrie tertinggi dari segi aset di atas Rp 500 miliar hingga Rp 1,5 triliun.

Pada kelompok terakhir, asuransi jiwa beraset di bawah Rp 500 miliar muncul juara kembar dengan skor sama, yakni PT Asuransi Jiwa Bumiartha Reksatama dan PT Asuransi Jiwa Recapital.

Kategori perusahaan reasuransi, PT Reasuransi Internasional Indonesia menempati tertinggi. Sedangkan penghargaan khusus diberikan kepada PT Asuransi Kesehatan sebagai asuransi sosial yang berhasil menjalankan program asuransi kesehatan bagi rakyat miskin. Satu penghargaan berupa golden award diserahkan kepada PT Asuransi Jiwa Bakrie atas prestasinya menjadi yang terbaik selama lima tahun berturut-turut.

Ke-11 perusahaan tersebut terpilih sebagai asuransi terbaik pada kelompoknya masing-masing setelah melewati proses seleksi awal dan pemeringkatan Majalah Investor. Penghargaan khusus juga diberikan dengan mempertimbangkan peranan kepada masyarakat dan program inovasi yang ditunjukkan oleh perusahaan asuransi sosial tahun 2007 dan hingga kuartal-I 2008. Guna mengukur peringkat perusahaan asuransi, sejumlah kriteria pemeringkatan digunakan.

Ketua Tim Juri Pemeringkatan Asuransi 2008 Herris Simandjuntak mengatakan, pemeringkatan ini dapat mendorong perusahaan agar lebih meningkatkan kinerja keuangan. Setidaknya, menurut mantan direktur utama PT Jiwasraya dan Asuransi Jasindo itu, pemeringkatan asuransi menjadi tolok ukur pencapaian kinerja.

“Hasil pemeringkatan akan memacu perusahaan berbuat lebih baik lagi ke depan. Meskipun memiliki keterbatasan dalam penilaian, hasil pemeringkatan dapat dijadikan rujukan bagi masyarakat dalam memilih perusahaan asuransi yang bagus,” tutur dia.

Kriteria Pemeringkatan

Direktur Globe Media Group Primus Dorimulu menjelaskan, pemeringkatan asuransi ini menggunakan data laporan keuangan 2004- 2007. Dari data tersebut kemudian dilakukan perhitungan dan penilaian terhadap kinerja keuangan. “Mengingat karakternya yang berbeda, asuransi umum dipisahkan dengan asuransi jiwa, begitu juga dengan reasuransi,” kata dia dalam penganugerahan penghargaan Asuransi Terbaik 2008 versi Majalah Investor di Ballroom Hotel Ritz Carlton, Pacific Place, Rabu (25/6).

Menurut Primus, tim juri menggunakan 15 kriteria untuk pemeringkatan perusahaan asuransi umum selama tiga tahun (2004-2007), yaitu pertumbuhan aset rata-rata, pertumbuhan ekuitas rata-rata, pertumbuhan jumlah investasi rata-rata, dan pertumbuhan premi neto rata-rata. Selain itu, pertumbuhan premi penutupan langsung rata-rata pertumbuhan hasil investasi rata-rata, dan pertumbuhan laba bersih rata-rata serta pertumbuhan hasil underwriting rata-rata masuk kriteria.

Kriteria lainnya meliputi return on asset (ROA) tahun 2007, return on equity (ROE), risk based capital (RBC), total asset turn over (TATO), pangsa pasar, rasio underwriting terhadap premi neto, dan rasio cadangan premi.

Pemeringkatan perusahaan asuransi jiwa menggunakan 14 kriteria. Sejumlah kriteria yang digunakan hampir sama dengan kriteria asuransi umum, kecuali tiga kriteria, yaitu pertumbuhan pandapatan, rasio biaya akuisisi terhadap premi neto, dan rasio hasil investasi neto terhadap rata-rata investasi. Sedangkan reasuransi digunakan kriteria sama dengan asuransi umum.

Tim juri pemeringkatan asuransi 2008 tidak mengikutsertakan perusahaan asuransi sosial dalam pemeringkatan. Pertimbangannya adalah perusahaan asuransi sosial yang satu dengan yang lain tidak apple to apple. Pangsa pasar asuransi sosial juga berbeda-beda dan masing-masing memonopoli dalam bidang, sehingga tidak bisa dibandingkan satu dengan yang lain.

Tim juri sepakat memberikan penghargaan khusus kepada asuransi sosial berdasarkan prestasinya untuk membantu masyarakat dalam bentuk perlindungan asuransi.

Kriteria total asset turn over (TATO) juga dimasukkan dalam penilaian, karena dianggap penting dalam menghitung turn over perusahaan yang dikaitkan dengan aset. TATO dihitung dari premi penutupan langsung dibagi aset total. Bila TATO sama dengan satu, berarti setiap satu satuan aset mampu menghasilkan satu satuan premi. Idealnya, TATO perusahaan bernilai lebih dari satu. Kriteria pangsa pasar digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan asuransi dalam memperebutkan pangsa pasar. Semakin besar pangsa pasar, berarti semakin piawai satu perusahaan menghadapi persaingan bisnis.

Namun, tidak semua perusahaan asuransi diperingkat. Ada sejumlah seleksi awal yang harus dilewati sebelum masuk dalam proses pemeringkatan. Seleksi itu meliputi beberapa hal. Yaitu, perusahaan mempublikasikan laporan keuangan auditan 2007, laporan keuangan 2007 tidak mendapat opini disclaimer, RBC minimal 120%, masih beroperasi hingga pemeringkatan dibuat, dan tidak dalam status pembatasan kegiatan usaha (PKU).

Berdasarkan seleksi awal, 21 perusahaan tidak lolos yang terdiri atas 12 asuransi jiwa dan sembilan asuransi umum. Asuransi syariah tidak diikutkansertakan dalam pemeringkatan. Dengan begitu, perusahaan asuransi yang dapat diperingkat 113. Pada kelompok asuransi umum terdapat 81 perusahaan, 32 kelompok asuransi jiwa, empat kelompok reasuransi.

Opini Disclaimer

Data Departemen Keuangan menunjukkan, jumlah perusahaan asuransi yang mendapat izin operasi per Juni 2008 146. Sedangkan data Litbang Majalah Investor pada akhir 2007 menyebutkan, satu asuransi yang memperoleh opini disclaimer, yakni PT Asuransi Llyod Indonesia .

Sebelas asuransi masih merugi dalam tiga tahun berturut-turut, antara lain, PT Asuransi Jiwa Masyarakat Mandiri, PT Pasaraya Life Insurance, PT Asuransi Chubb Indonesia, dan PT Asuransi Putra Mandiri. Sedangkan sembilan asuransi tidak memiliki data lengkap atau belum mempublikasi laporan keuangan 2007, antara lain PT Asuransi Jiwa Tugu Mandiri, PT Asuransi Jiwasraya, PT Asuransi Starlite International, PT dan Transpacific General Insurance.

From: investorindonesia.com/index….57900

Kepala Biro Perasuransian Bapepam-LK Isa Rachmatarwata (ketiga dari kiri) foto bersama usai menyerahkan penghargaan kelompok asuransi jiwa terbaik kepada Presdir PT Prudential Life Assurance Kevin L Holmgren (kiri), Penasihat Pemasaran PT Asuransi Jiwa Sinar Mas Jaime Jose Marudo Javier (kedua dari kiri), Direktur PT Asuransi Jiwa Mega Life Cladia Inkiwirang (tengah), Dirut PT Asuransi Jiwa Bakrie Timoer Soetanto (ketiga dari kanan), Dirut PT Asuransi Recapital Liza Linda (kedua dari kanan), dan Perwakilan PT Asuransi Jiwa Bumiartha Reksatama (kanan) pada malam penghargaan Asuransi Terbaik 2008 versi majalah Investor di Hotel Ritz Carlton, Pacific Palace, Jakarta, Rabu (25/6). (Investor Daily/MUHAMMAD YASIN)

From: investorindonesia.com/index….57851

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.