Skip navigation

Category Archives: investasi

Sedari tahun 2001, meski merasa gak bakat jadi sales/marketing, berbagai product telah saya pasarkan. Dari frame, kitchen set, kopi dan product MLM lainnya hingga kursi pijat harga puluhan juta. Tapi asuransi jiwa adalah product terbaik yang pernah saya jual. Memang bukan yang paling mahal. Pun bukan yang paling mudah untuk dijual.

Kenapa saya berasumsi bahwa asuransi jiwa adalah product terbaik yang pernah saya pasarkan?

Sampai kini saya percaya bahwa peranan kita dalam kehidupan salah satunya diukur dari seberapa bermanfaat kita untuk orang lain. Apa value kita untuk keluarga, sahabat, tetangga bahkan orang yang gak dikenal sekalipun.

Asuransi jiwa [dalam hal ini telah digabung dengan investasi dan disebut unit link] mungkin hanya selembar kertas. Manfaatnya pun tidak langsung dirasakan seperti kita membeli barang elektronik. Tapi, product yang “hanya” selembar kertas ini pada saatnya bisa menjadi sebuah “mukjizat”. Ia datang saat diperlukan.

Kita lihat dari segi manfaat dasar yakni manfaat meninggal [death benefit]. Siapa sih yang bisa menghindar dari kematian? Dan “sialnya” kita gak pernah tau pasti kapan ia akan datang.

Sebuah perusahaan asuransi tidak menyediakan suami pada janda yang ditinggal meninggal suaminya, juga tak memberikan seorang ayah pada yatim yang ditinggal pergi sang ayah. Tapi asuransi menggantikan nafkah yang selalu mereka dapatkan saat sang almarhum masih ada. Jadi meski ia telah berpulang, tapi “gaya hidup” keluarga yang ditinggalkan tidak lantas otomatis “turun kelas”. Kepergian si pencari nafkah dapat tergantikan secara finansial oleh asuransi. Adakah product lain di luar sana yang memiliki manfaat seperti ini?

Sudah menjadi pameo umum bahwa kami agen asuransi “hanya” dibutuhkan saat nasabah mengalami masalah. Entah untuk keperluan penarikan dana, klaim sakit, kecelakaan atau bahkan meninggal. Itu tak menjadi masalah buat saya secara pribadi. Toh ada dan menjadi sahabat saat orang lain menderita merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya. Inilah pembeda profesi ini dengan pofesi yang lain, tentu saja tanpa bermaksud melecehkan apalagi mediskreditkan profesi lain. Toh kalau semua jadi agen asuransi repot juga kalau kita pengen cari ojek atau ingin makan bakso. Semua pensiun karena menjadi agen asuransi. Tapi mari kita buka mata, adakah profesi agen asuransi masuk list cita-cita kita saat kita masih kanak-kanak bahkan saat menginjak pendidikan jenjang atas? Saya pribadi gak pernah bercita-cita atau kepikiran menjadi agen asuransi. Saat saya sudah “malang-melintang” jadi sales sekalipun. Tapi justru pada akhirnya, saya sangat bersyukur diberi kesempatan oleh Tuhan bisa menekuni profesi ini.

Mungkin terlalu berlebihan jika saya katakan bahwa seorang agen asuransi berpacu dengan musibah. Tinggal dulu-duluan siapa yang datang. Jika kami datang lebih cepat dari musibah, tentu kami bisa memberikan bantuan untuk meringankan beban. Tapi jika kami kalah cepat dengan musibah yang datang, kami tak bisa berbuat banyak.

Dulu pun saya berfikir, jika saya tidak mengambil product ini, agen yang menawarkan saya tidak akan berkurang komisinya. Tapi nasib saya? Apakah saya telah membuat kontrak dengan Tuhan agar tidak dipanggil cepat, sakit atau kecelakaan? Ternyata product ini sangat sangat diperlukan oleh siapa saja.

Menabung sedari dini sangatlah penting. Mengasuransikan diri juga hal yang sangat penting. Pun berinvestasi dalam kondisi sulit seperti sekarang ini juga gak kalah penting. Tapi kalau bisa mendapatkan ketiga hal tersebut dalam satu paket bukankah lebih memudahkan kita?

Unit link adalah product terbaik yang pernah saya jual. Dan menjadi agen asuransi jiwa adalah profesi terbaik yang pernah saya jalani. Terimakasih Tuhan….

Banyak di antara kita yang tidak terlalu peduli terhadap rencana keuangan di masa pensiun. Padahal masa pensiun adalah sesuatu yang hampir pasti terjadi suatu saat kelak. Oleh karena itu, menyiapkan rencana keuangan di masa pensiun adalah tindakan yang sangat bijaksana.

Diasumsikan bahwa usia pensiun adalah 65 tahun. Pasa saat pensiun nanti, kita ingin berhasil mengumpulkan dana untuk membiayai masa pensiun sebesar Rp 1 miliar. Berikut ilustrasi dana yang harus kita persiapkan dengan asumsi hasil investasi yang terjadi sebesar 5 %, 10 % dan 15 % [sudah bebas pajak dan telah mempertimbangkan tingkat inflasi]:

Usia 20 tahun:
5 % = 521,811
10 % = 115,917
15 % = 23,244

Usia 30 tahun:
5 % = 922,642
10 % = 307,475
15 % = 94,571

Usia 35 tahun:
5 % = 1,254,286
10 % = 506,604
15 % = 191,683

Usia 40 tahun:
5 % = 1,746,038
10 % = 847,339
15 % = 391,617

Usia 50 tahun:
5 % = 3,861,857
10 % = 2,622,815
15 % = 1,751,421

Usia 55 tahun:
5 % = 6,625,381
10 % = 5,228,783
15 % = 4,104,339

Usia 60 tahun:
5 % = 15,081,233
10 % = 13,649,790
15 % = 12,359,629

Jika saat ini kita berusia 30 tahun, dan menginvestasikan uang kita secara berkala [regular] di instrumen investasi yang menghasilkan hasil investasi sebesar 10 %, maka kita harus menyisihkan uang sebesar Rp 307,475 setiap bulan, agar kita dapat mewujudkan impian kita untuk dapat memiliki dana Rp 1 miliar pada saat usia kita mencapai 65 tahun. Jika kita beruntung mendapatkan hasil investasi sebesar 15 %, maka kita cukup menyisihkan Rp 94,571 setiap bulannya untuk dapat menghasilkan uang senilai Rp 1 miliar pada usia 65 tahun.

Semakin dini usia kita, maka akan semakin ringan bebang uang yang harus kita sisihkan untuk dapat mewujudkan impian kita.

Pada usia 20 tahun, kita hanya perlu menyisihkan uang sebesar Rp 521,811 setiap bulan untuk mendapatkan uang senilai Rp 1 miliar pada usia 65 tahun, jika kita menginvestasikan uang kita pada instrumen investasi dengan hasil investasi sebesar 5 %. Bandingkan dengan jika kita telah berusia 50 tahun. Dibutuhkan uang sebesar Rp 3,861,857 atau lebih dari tiga juta rupiah setiap bulan agar kita dapat mewujudkan impian kita untuk memperoleh uang senilai Rp 1 miliar pada saat usia kita telah mencapai 65 tahun. Padahal di usia-usia tersebut, kita juga sedang disibukkan dengan biaya kuliah anak-anak kita atau pun biaya pernikahan mereka.

Semakin dini usia kita saat mulai menabung, semakin ringan bebas uang atau dana yang harus kita sisihkan untuk dapat mewujudkan impian masa pensiun yang indah. Jadi, mulailah menabung sedini mungkin!

#Pendapatan Premi Baru
Q1 2007 = Rp. 5.6 T
Q1 2008 = Rp. 10.0 T [^ 80 %]

#Pendapatan Premi Lanjutan
Q1 2007 = Rp. 3.1 T
Q1 2008 = Rp. 3.9 T [^ 26 %]

#Pendapatan Premi
Q1 2007 = Rp. 8.7 T
Q1 2008 = Rp. 13.9 T [^ 61.1 %]

#Nilai Invetasi
Q1 2007 = Rp. 66.5 T
Q1 2008 = Rp. 91.9 T [^ 38.4 %]

#Total Aset
Q1 2007 = Rp. 74.8 T
Q1 2008 = Rp. 102.5 T [^ 37 %]

#Instrumen Investasi [Q1/2008 - unaudited]

  • Efek – efek = Rp. 35.04 T [38.10 %]
  • Reksa Dana = Rp. 27.99 T [30.43 %]
  • Deposito = Rp. 10.11 T [10.99 %]
  • SBI = Rp. 7.23 T [7.86 %]
  • Penyertaan Langsung = Rp. 4.08 T [4.43 %]
  • SBPU = Rp. 2.84 T [3.09 %]
  • Bangunan tanah & bangunan utk investasi = Rp. 2.08 T [2.26 %]
  • Pinjaman Polis = Rp. 2.05 T [2.23 %]
  • Pinjaman Hipotik = Rp. 222.65 M [0.24 %]
  • Lain – lain = Rp. 337.01 M [0.37 %]

Pertumbuhan Unit Link
Baru = Rp. 4.8 T [^ 126 %]
Lanjutan = Rp. Rp. 1.5 T [^ 91.6 %]

Pertumbuhan Non-Unit Link
Rp. 5.2 T

Dari 40 Perusahaan Asuransi Jiwa [24 Perusahaan Jiwa Nasional dan 16 Perusahaan Jiwa Joint Venture]

Anggota AAJI = 46 Perusahaan

From: http://www.detikfinance.com/read/…..

PENDAPATAN

#Premi

  1. Premi Baru
    • Individu
      Q4 2006 = 7,168,766,306
      Q4 2007 = 10,095,215,781
      + 2,926,449,475 [^ 41 %]
    • Group
      Q4 2006 = 3,515,650,063
      Q4 2007 = 6,470,358,277
      + 2,954,708,214 [^ 84 %]
    • Unit Link
      Q4 2006 = 4,630,785,843
      Q4 2007 = 13,856,799,637
      + 9,226,013,794 [^ 199 %]
    • Anuitas
      Q4 2006 = 491,183,348
      Q4 2007 = 204,716,661
      - 286,466,687 [v 58 %]

    Total Premi Baru
    Q4 2006 = 15,806,385,560
    Q4 2007 = 30,627,090,356
    + 14,820,704,796 [^ 94 %]

  2. Premi Lanjutan
    • Individu
      Q4 2006 = 6,653,481,736
      Q4 2007 = 7,346,599,658
      + 693,117,922 [^ 10 %]
    • Group
      Q4 2006 = 1,599,467,699
      Q4 2007 = 2,170,426,239
      + 570,958,540 [^ 36 %]
    • Unit Link
      Q4 2006 = 2,159,413,132
      Q4 2007 = 4,074,644,988
      + 1,915,231,856 [^ 89 %]
    • Anuitas
      Q4 2006 = 323,567,586
      Q4 2007 = 193,458,481
      - 130,109,105 [v 40 %]

    Total Premi Lanjutan
    Q4 2006 = 10,735,930,153
    Q4 2007 = 13,785,129,366
    + 3,049,199,213 [^ 28 %]

#Pendapatan Non-Premi

  • Pendapatan Investasi
    Q4 2006 = 5,970,474,835
    Q4 2007 = 10,451,746,601
    + 4,481,271,766 [^ 75 %]
  • Pendapatan Lain
    Q4 2006 = 336,552,852
    Q4 2007 = 2,499,313,241
    + 2,162,760,389 [^ 643 %]

TOTAL PENDAPATAN
Q4 2006 = 33,072,574,269
Q4 2007 = 58,171,679,162
+ 25,099,104,893 [^ 76 %]

JUMLAH INVESTASI, TOTAL ASET & CADANGAN TEKNIS

  • Jumlah Investasi
    Q4 2006 = 60,675,858,611
    Q4 2007 = 90,953,162,092
    + 30,277,303,481 [^ 50 %]
  • Total Aset
    Q4 2006 = 66,396,397,822
    Q4 2007 = 101,170,557,966
    + 34,774,160,144 [^ 52 %]
  • Cadangan Teknis
    Q4 2006 = 54,506,092,395
    Q4 2007 = 76,493,869,775
    + 21,987,777,380 [^ 40 %]

INSTRUMEN INVESTASI [Q4/2007]

  • Efek – efek = Rp. 41.2 T [45.35 %]
  • Reksa Dana = Rp. 26.6 T [29.21 %]
  • Deposito = Rp. 10.6 T [11.67 %]
  • SBI = Rp. 4.2 T [4.6 %]
  • Penyertaan Langsung = Rp. 4.0 T [4.44 %]
  • Bangunan tanah & bangunan utk investasi = Rp. 2.0 T [2.21 %]
  • Pinjaman Polis = Rp. 1.8 T [1.94 %]
  • Pinjaman Hipotik = Rp. 206.6 M [0.23 %]
  • SBPU = Rp. 91.3 M [0.10 %]
  • Lain – lain = Rp. 232.8 M [0.26 %]

AGEN [Q4/2007]

  • Sertifikasi Grandfathering = 65,689 [49.90 %]
  • Sertifikasi Penuh = 29,945 [22.75 %]
  • Sertifikasi Sementara = 36,003 [27.35 %]

Total = 131,637

Sumber: AAJI / Kompas, 22 Mei 2008

Membaca tulisan Om Pri, meski gak kenal banget siapa beliau, dari tulisannya saja sudah terlihat kalo beliau orang yang berwawasan luas. Saya sendiri sebagai nasabah Unit Link dan kini juga sebagai agen asuransi, gak pengen membantah opini beliau atau pun mengiyakan. Setiap orang tanpa terkecuali, berhak untuk mengemukakan pendapatnya. Tapi sebelumnya, ada yang bisa kasih ke-PAsTI-an gak kalo asuransi + Reksa Dana [RD] lebih menguntungkan dibanding Unit Link? Atau saya balik, ada yang bisa kasih ke-PASTI-an kalo Unit Link lebih menguntungkan dari asuransi + RD terpisah?

Dari sudut pandang awam saya -yang masih hijau dan masih bau kencur di dunia investasi dan asuransi- serta tidak memiliki latar belakang disiplin ilmu apa pun, berpendapat kenapa sih Unit Link terlihat lebih menarik dibandingkan dengan asuransi non-Unit Link dan/atau RD?

Menurut saya, tingkat kesadaran masyarakat kita saat ini akan pentingnya asuransi [jiwa] masih rendah. Silakan saja tanya pada agen asuransi [jiwa] yang menawarkan Anda polis asuransi [jiwa] dan dengan gagahnya berorasi tentang pentingnya asuransi [jiwa], apakah jaminan kalo ia juga telah memiliki polis? Bukan saya malah mendiskreditkan rekan seperjuangan saya. Saya hanya ingin bicara realistis saja kok . Dan semoga gak muncul jawaban berupa pertanyaan balik: Apakah semua sales BMW punya mobil BMW?. Atau coba tebak, apakah orang yang telah mengasuransikan kendaraannya sudah pasti telah mengasuransikan dirinya? Lebih penting mana asuransi jiwa dibanding asuransi kendaraan? Ada yang tidak sependapat dengan saya? Silakan didebat. Saya gak akan debat balik. Ini cuma opini pribadi kok .

Di lain sisi, kesadaran kita akan investasi makin meningkat. Entah karena lapangan pekerjaan makin sulit, merasa jadi karyawan sulit untuk kaya, atau ada alasan lainnya. Yang jelas, dengan berinvestasi/berbisnis kita mengharapkan kehidupan yang lebih baik. Gak heran, sebagian dari kita mulai mengalokasikan dananya untuk berinvestasi. Berbisnis mulai kita anggarkan dalam struktur pengeluaran kita.

Kalo boleh saya gambarkan, strukur pengeluaran kita pada umumnya sbb:

atau

Gambar pertama menunjukkan bahwa seseorang mulai berfikir untuk berinvestasi meskipun ia tidak atau belum memiliki tabungan yang cukup. Sedangkan gambar kedua menunjukkan seseorang berfikir untuk berinvestasi setelah biaya hidup dan tabungan telah terpenuhi.

Di mana porsi pengeluaran untuk polis asuransi jiwa?

Mungkin asuransi jiwa bagi sebagian kita bukanlah hal yang menarik. Membicarakan kematian, kecelakaan, penyakit kritis dan/atau biaya rumah sakit, bukanlah topik yang menyenangkan untuk dibahas. Dibanding topik soal [misal] banyaknya pengguna hp dan peluang menjual pulsa.

Okelah, kita kesampingkan dahulu soal kecelakaan, penyakit kritis dan/atau biaya rumah sakit [meski survey dari WHO tahun 2002 bahwa 92% orang sebelum meninggal mengalami sakit kritis sebelumnya], kita bahas hal yang pasti akan datang. Yup, kematian [yang merupakan asuransi jiwa dasar]. Gak ada yang tau pasti kapan ia akan datang. Tapi kita sadar bahwa ia PASTI datang. Dan fakta lain berbicara bahwa kematian seorang pencari nafkah akan berakibat hilangnya sumber pendapatan bagi yang berkepentingan. Perlu sebuah JAMINAN untuk dapat menyesuaiakan diri dengan kondisi baru. Seseorang memerlukan asuransi jiwa tidak “hanya” karena ia akan meninggal, tapi juga karena orang yang ia tinggalkan harus tetap hidup bahagia. Saya pribadi lebih senang memprospek seorang tulang punggung dalam sebuah keluarga tanpa mengurangi penilaian bahwa siapa saja membutuhkan polis asuransi jiwa tanpa terkecuali.

Semisal sebuah keluarga memerlukan biaya 5 juta /bulan [= 60 juta /tahun] untuk dapat hidup layak. Andai terjadi sesuatu yang menyebabkan si pencari nafkah tidak dapat memenuhi kebutuhan ini karena sakit kritis, cacat tetap atau meninggal, perlu sesuatu agar standar kehidupan keluarga yang ditinggalkan tidak turun. Dengan cara deposito juga bisa. Anda bunga deposito 10% /tahun, si pencari nafkah setidaknya memiliki warisan 600 juta. Bunga deposito ini setidaknya bisa digunakan selama 5 – 10 tahun dengan asumsi setelah 5 – 10 tahun keluarga yang ditinggalkan sudah mampu untuk mencari penghasilan sendiri. Di sinilah Unit Link berperan. Karena angka 600 juta bagi sebagian besar masyarakat kita tentu bukan angka yang sedikit.

Dengan menyisihkan sebagian dari tabungan, maka bisa membantu secara finansial seandainya si pencari nafkah sudah gak mampu lagi untuk mencari nafkah. Entah karena sakit kritis, cacat atau meninggal. Dengan cara ini, diharapkan biaya hidup, tabungan dan/atau investasi tidak akan terganggu apapun yang terjadi dengan si pencari nafkah. Dengan menyisihkan 2 juta /bulan [24 juta /tahun], saya rasa bisa dapat Uang Pertanggungan sebesar 600 juta. Dengan cara dicicil seperti ini akan terasa lebih ringan jika dibandingkan kita harus mempersiapkan uang 600 juta sekaligus. Dan jika si pencari nafkah mengalami hal yang tidak diinginkan setelah tahun pertama menabung, maka “warisan” yang didapat keluarganya akan lebih besar karena Nilai Tunai telah terbentuk. Jika ia toh panjang umur, tetap ia tida akan “rugi”. Malah uang yang ditabung akan dapat kembali [BEP]. Tentu dari hasil investasi Unit Link ini.

Di tempat saya juga masih tersedia kok asuransi tradisional [non-Unit Link]. Tapi jujur, sampai saat tulisan ini saya buat, saya belum pernah menjualnya. Mungkin karena asuransi ini kurang menarik dibandingkan dengan Unit Link .

Sebagai sahabat [yang jika sama-sama panjang umur akan mendampingi mereka sampai usia 99 tahun], saya gak pernah menghalangi nasabah ataupun calon nasabah untuk membeli asuransi non-Unit Link + RD secara terpisah. Silakan saja . Ini hanya soal selera. Ibarat ayam goreng dengan tepung, ada yang lebih suka ayam goreng yang ditepungi tapi ada juga yang lebih suka ayam goreng + tepung goreng [contohlah bakwan] secara terpisah. Contohnya kurang oke ya? Gimana dengan kopi susu dan kopi + susu terpisah? Mana yang lebih menguntungkan? Mana yang lebih enak? Ayam goreng ditepungi / kopi susu? Atau ayam goreng + tepung goreng / kopi + susu terpisah? Masing-masing punya argumen. Gak ada yang bersifat absolut seperti 1 + 1 PASTI = 2. Meski bisnis/investasi bersifat itung-itungan, tapi hasilnya sulit dipastikan seperti ilmu matematika.

Bukan untuk menggurui. Hanya opini pribadi. Semoga membantu.

Ada 2 bentuk investasi:

  1. Investasi pada Aktiva Riil, yaitu investasi dalam bentuk yang dapat dilihat secara fisik, seperti emas, intan, rumah, dll.
  2. Investasi pada Aktiva Finansial, yaitu investasi dalam bentuk yang biasanya diwakilkan dalam surat-surat berharga, seperti deposito, obligasi, dll.

Ada 2 cara dalam berinvestasi pada Aktiva Finansial:

  1. Investasi Secara Langsung, artinya: dengan memiliki surat berharga tersebut pemilik dapat menentukan jalannya kebijaksanaan yang juga berpengaruh pada investasi surat berharga yang dimilikinya. Contoh: Saham.
  2. Investasi Secara Tidak Langsung, artinya: pengelolaan surat berharga diwakilkan oleh suatu badan atau lembaga yang mengolah investasi para pemegang surat berharganya untuk sedapat mungkin menghasilkan keuntungan yang memuaskan para pemegang surat berharganya. Contoh: Reksadana.

Ada 5 pertimbangan dalam berinvestasi:

  1. Tujuan Investasi
  2. Tujuan yang utama adalah mengharapkan keuntungan di masa depan. Tujuan yang lainnya yakni mengantisipasi tekanan inflasi.

    Contoh:
    Jika suku bunga bank 5% per-tahun dan angka inflasi 9%, maka secara jumlah uang kita akan bertambah karena suku bunga. Tetapi secara nilai atau daya beli uang, uang kita mengalami penurunan yang secara kasar adalah sekitar 4%. Oleh karena itu, untuk mengantisipasinya kita harus melakukan investasi dengan tingkat suku bunga lebih dari 9% atau minimal sama dengan tingkat inflasi.

  3. Jangka Waktu Investasi
  4. Jangka waktu investasi erat dengan tujuan investasi. Jika kita ingin mempersiapkan investasi untuk membeli mobil tahun depan, maka kita bisa berinvestasi pada instrumen investasi jangka pendek. Sedangkan jika ingin mempersiapkan dana pensiun, maka kita dapat melakukan investasi pada instrumen investasi jangan panjang.

    Jangka waktu investasi juga berkaitan dengan risiko investasi. Jika ingin berinvestasi pada deposito [jangka pendek], maka kita akan mendapatkan hasil yang pasti pada saat jatuh tempo dengan risiko yang relatif kecil, dan mendapatkan keuntungan yang juga kecil. Sedangkan jika ingin investasi di saham [jangka panjang], maka keuntungan atau kerugian bisa terjadi jika hanya melihat pada jangka waktu yang relatif pendek. Sedangkan jika kita lakukan dalam jangka waktu yang rekatif panjang, maka hal ini dapat menekan fluktuasi yang muncul pada jangka pendek.

    Investasi jangka pendek bisa memilih: Deposito atau Sertifikat Bank Indonesia [SBI] karena keduanya dapat memberikan kepastian hasil dalam jangka waktu yang relatif pendek.

    Investasi jangka panjang bisa memilih: Saham atau Obligasi.

  5. Risiko
  6. Dalam berinvestasi, jika ingin mendapatkan hasil yang besar, maka harus bersiap dengan risiko yang besar pula. Dan jika hanya ingin risiko yang kecil maka keuntungannya juga akan kecil. Konsep ini dikenal dengan high risk, high return and low risk, low return.

  7. Likuiditas
  8. Artinya kemudahan untuk diubah menjadi tunai atau juga mudah diuangkan. Likuiditas harus disesuaikan dengan tujuan investasi. Jika investasi untuk pensiun, maka tidak perlu yang terlalu likuid. Sedangkan jika memerlukan untuk tahun depan, maka berinvestasilah dalam jangka pendek yang relatif lebih likuid.

    Aktiva finansial adalah aktiva yang lebih likuid dibandingkan dengan aktiva riil. Contoh: Sertifikat Deposito lebih mudah diuangkan dibandingkan mobil atau rumah. Mengapa demikian? Karena nilai aktiva finansial lebih mudah diukur sesuai dengan nilai yang tertera pada portfolio/surat berharga tersebut. Sedangkan nilai pada aktiva riil akan lebih sulit diukur karena orang akan menilai/melakukan penawaran terhadap aktiva riil yang dijual sehingga akan terjadi tawar menawar untuk menentukan nilai atau harga yang pantas.

  9. Pajak
  10. Hasil investasi akan dikenakan pajak BUKAN pada pokoknya melainkan pada hasil investasinya. Besar pajak pada investasi di Indonesia sekitar 20%.

    Memperhitungkan besar kecilnya pajak sebelum melakukan investasi adalah hal yang bijaksana. Artinya, seorang investor sebaiknya memikirkan dulu berapa besar keuntungan yang didapat dari hasil investasinya dibandingkan dengan pajak yang akan dikenakan pada hasil investasinya. Hal ini perlu untuk dapat menentukan hasil investasi bersih setelah pajak.

Jenis-jenis Investasi pada Aktiva Finansial

Investasi di Pasar Uang

  1. Deposito
  2. Investor menanamkan dana dalam jangka waktu tertentu, biasanya jangka pendek, dan dapat memperoleh hasil berupa bunga. Bunga atau hasil pada instrumen ini biasanya kecil sesuai dengan risikonya.

    Deposito dibagi menjadi 2:

    • Deposito Berjangka
    • Investor menanamkan uang dalam jangka waktu pendek [biasanya tidak lebih dari 1 tahun], dan saat jatuh tempo akan menerima kembali dana yang diinvestasikan bersama dengan bunga/hasil investasinya. Pada portfolio/surat berharga tersebut tertera besar dana yang diinvestasikan, jangka waktu, nama nasabah/investor, serta besar bunga yang akan didapat pada saat jatuh tempo.

    • Sertifikat Deposito
    • Berbeda dengan Deposito Berjangka, pada Sertifikat Deposito bunga akan diterima diawal. Instrumen ini mempunyai jangka waktu kurang lebih sama dengan Deposito Berjangka, yaitu di bawah 1 tahun. Pada portfolio hanya tertulis besar dana yang diinvestasikan, jangka waktu dan besar bunga. Nama nasabah/investor tidak tertulis di sini, sehingga bisa diperjual belikan.

  3. Sertifikat Bank Indonesia [SBI]
  4. Merupakan surat pengakuan hutang dari Bank Indonesia [BI]. BI mengeluarkan portfolio/surat berharga yang sudah tertera nilai dari portfolio tersebut, dengan jangka waktu tertentu, dan besar hasil investasi yang dijanjikan pada saat jatuh tempo. Jika investor membeli portfolio ini maka ia akan mendapatkan keuntungan berupa hasil investasi yang berbentuk bunga pada saat jatuh tempo. Bunga SBI biasanya berkisar 1% hingga 2% di atas rata-rata bunga bank umum. Tidak tercantum nama nasabah/investor dalam portfolio ini sehingga dapat diperjual belikan.

  5. Commercial Paper [Surat Berharga]
  6. Diterbitkan oleh perusahaan umum guna mendapatkan modal untuk pengembangan usahanya. Tidak ada jaminan spesifik dan pasti karena jika perusahaan tersebut pailit maka tidak ada jaminan yang pasti bagi para investornya. Penjualan Surat Berharga ini biasanya dilakukan melalui perantara bank umum. Serupa dengan Sertifikat Deposito atau SBI, Surat Berharga ini tidak memuat nama investor sehingga dapat diperjual belikan. Surat Berharga ini biasanya kurang diminati karena hasil yang kecil tapi dengan risiko yang relatif besar.

Investasi di Pasar Modal

  1. Obligasi
  2. Instrumen investasi yang memberikan hasil investasi tetap berupa bunga atau yang lebih dikenal dengan nama Kupon, yakni bunga yang didapat pada Obligasi dan besarnya sudah ditetapkan sejak awal, serta tidak dapat diubah hingga jatuh tempo. Walaupun pada saat tertentu nilai Obligasi ini mengalami penurunan atau kenaikan, besarnya bunga Kupon yang sudah dijanjikan di awal tidak akan berubah hingga jatuh tempo Obligasi berakhir.

    Obligasi dikeluarkan dengan tujuan agar perusahaan yang mengeluarkan Obligasi tersebut mendapatkan sejumlah dana untuk mengembangkan bisnisnya dengan menerbitkan dan menjual surat berharga tersebut dan menjanjikan Kupon [bunga] yang tetap sebagai kewajiban yang harus dibayarkan perusahaan hingga jatuh tempo. Saat jatuh tempo, perusahaan membeli kembali Obligasi dengan nilainya. Oleh sebab itu Obligasi juga dikenal dengan Surat Hutang.

  3. Saham
  4. Memiliki saham sama dengan memiliki aset perusahaan itu sendiri. Artinya, jika memiliki 70% saham dari satu perusahaan, maka 70% aset perusahaan tersebut menjadi hak pemilik saham tersebut. Jika memiliki saham mayoritas pasa suatu perusahaan, tentu saja pemilik saham mayoritas tersebut berhak memiliki hak terbanyak untuk menentukan jalannya perusahaan, dan berhak pula mendapatkan hasil terbanyak sesuai dengan proporsi kepemilikan sahamnya.

    Dalam hal keuntungan, instrumen investasi ini bisa memberikan keuntungan yang relatif sangat besar, sekaligus memiliki risiko yang besar pula. Keuntungan pada saham disebut dengan Dividen. Selain itu, keuntungan pada saham juga bisa didapat dari selisih harga pada saat membeli dan saat menjual, atau dikenal dengan Capital Gain. Namun jika harga jual lebih murah dari harga beli, maka akan terjadi kerugian atau Capital Loss.

INSTRUMEN INVESTASI APAKAH YANG PALING TEPAT?

Sesuaikan dengan tujuan investasi kita dan bagaimana tingkat toleransi terhadap risiko. SBI, deposito bank, serta instrumen pasar uang lainnya cocok untuk investasi jangan pendek. Meski keuntungan relatif kecil, tapi risikonya juga relatif kecil. Sedangkan Obligasi cocok untuk investasi jangka menengah, dengan keuntungan dan risiko yang sedang. Sementara saham cocok untuk investasi jangka panjang, dengan keuntungan dan risiko yang relatif tinggi.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.