Skip navigation

Category Archives: opini

Sedari tahun 2001, meski merasa gak bakat jadi sales/marketing, berbagai product telah saya pasarkan. Dari frame, kitchen set, kopi dan product MLM lainnya hingga kursi pijat harga puluhan juta. Tapi asuransi jiwa adalah product terbaik yang pernah saya jual. Memang bukan yang paling mahal. Pun bukan yang paling mudah untuk dijual.

Kenapa saya berasumsi bahwa asuransi jiwa adalah product terbaik yang pernah saya pasarkan?

Sampai kini saya percaya bahwa peranan kita dalam kehidupan salah satunya diukur dari seberapa bermanfaat kita untuk orang lain. Apa value kita untuk keluarga, sahabat, tetangga bahkan orang yang gak dikenal sekalipun.

Asuransi jiwa [dalam hal ini telah digabung dengan investasi dan disebut unit link] mungkin hanya selembar kertas. Manfaatnya pun tidak langsung dirasakan seperti kita membeli barang elektronik. Tapi, product yang “hanya” selembar kertas ini pada saatnya bisa menjadi sebuah “mukjizat”. Ia datang saat diperlukan.

Kita lihat dari segi manfaat dasar yakni manfaat meninggal [death benefit]. Siapa sih yang bisa menghindar dari kematian? Dan “sialnya” kita gak pernah tau pasti kapan ia akan datang.

Sebuah perusahaan asuransi tidak menyediakan suami pada janda yang ditinggal meninggal suaminya, juga tak memberikan seorang ayah pada yatim yang ditinggal pergi sang ayah. Tapi asuransi menggantikan nafkah yang selalu mereka dapatkan saat sang almarhum masih ada. Jadi meski ia telah berpulang, tapi “gaya hidup” keluarga yang ditinggalkan tidak lantas otomatis “turun kelas”. Kepergian si pencari nafkah dapat tergantikan secara finansial oleh asuransi. Adakah product lain di luar sana yang memiliki manfaat seperti ini?

Sudah menjadi pameo umum bahwa kami agen asuransi “hanya” dibutuhkan saat nasabah mengalami masalah. Entah untuk keperluan penarikan dana, klaim sakit, kecelakaan atau bahkan meninggal. Itu tak menjadi masalah buat saya secara pribadi. Toh ada dan menjadi sahabat saat orang lain menderita merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya. Inilah pembeda profesi ini dengan pofesi yang lain, tentu saja tanpa bermaksud melecehkan apalagi mediskreditkan profesi lain. Toh kalau semua jadi agen asuransi repot juga kalau kita pengen cari ojek atau ingin makan bakso. Semua pensiun karena menjadi agen asuransi. Tapi mari kita buka mata, adakah profesi agen asuransi masuk list cita-cita kita saat kita masih kanak-kanak bahkan saat menginjak pendidikan jenjang atas? Saya pribadi gak pernah bercita-cita atau kepikiran menjadi agen asuransi. Saat saya sudah “malang-melintang” jadi sales sekalipun. Tapi justru pada akhirnya, saya sangat bersyukur diberi kesempatan oleh Tuhan bisa menekuni profesi ini.

Mungkin terlalu berlebihan jika saya katakan bahwa seorang agen asuransi berpacu dengan musibah. Tinggal dulu-duluan siapa yang datang. Jika kami datang lebih cepat dari musibah, tentu kami bisa memberikan bantuan untuk meringankan beban. Tapi jika kami kalah cepat dengan musibah yang datang, kami tak bisa berbuat banyak.

Dulu pun saya berfikir, jika saya tidak mengambil product ini, agen yang menawarkan saya tidak akan berkurang komisinya. Tapi nasib saya? Apakah saya telah membuat kontrak dengan Tuhan agar tidak dipanggil cepat, sakit atau kecelakaan? Ternyata product ini sangat sangat diperlukan oleh siapa saja.

Menabung sedari dini sangatlah penting. Mengasuransikan diri juga hal yang sangat penting. Pun berinvestasi dalam kondisi sulit seperti sekarang ini juga gak kalah penting. Tapi kalau bisa mendapatkan ketiga hal tersebut dalam satu paket bukankah lebih memudahkan kita?

Unit link adalah product terbaik yang pernah saya jual. Dan menjadi agen asuransi jiwa adalah profesi terbaik yang pernah saya jalani. Terimakasih Tuhan….

Membaca tulisan Om Pri, meski gak kenal banget siapa beliau, dari tulisannya saja sudah terlihat kalo beliau orang yang berwawasan luas. Saya sendiri sebagai nasabah Unit Link dan kini juga sebagai agen asuransi, gak pengen membantah opini beliau atau pun mengiyakan. Setiap orang tanpa terkecuali, berhak untuk mengemukakan pendapatnya. Tapi sebelumnya, ada yang bisa kasih ke-PAsTI-an gak kalo asuransi + Reksa Dana [RD] lebih menguntungkan dibanding Unit Link? Atau saya balik, ada yang bisa kasih ke-PASTI-an kalo Unit Link lebih menguntungkan dari asuransi + RD terpisah?

Dari sudut pandang awam saya -yang masih hijau dan masih bau kencur di dunia investasi dan asuransi- serta tidak memiliki latar belakang disiplin ilmu apa pun, berpendapat kenapa sih Unit Link terlihat lebih menarik dibandingkan dengan asuransi non-Unit Link dan/atau RD?

Menurut saya, tingkat kesadaran masyarakat kita saat ini akan pentingnya asuransi [jiwa] masih rendah. Silakan saja tanya pada agen asuransi [jiwa] yang menawarkan Anda polis asuransi [jiwa] dan dengan gagahnya berorasi tentang pentingnya asuransi [jiwa], apakah jaminan kalo ia juga telah memiliki polis? Bukan saya malah mendiskreditkan rekan seperjuangan saya. Saya hanya ingin bicara realistis saja kok . Dan semoga gak muncul jawaban berupa pertanyaan balik: Apakah semua sales BMW punya mobil BMW?. Atau coba tebak, apakah orang yang telah mengasuransikan kendaraannya sudah pasti telah mengasuransikan dirinya? Lebih penting mana asuransi jiwa dibanding asuransi kendaraan? Ada yang tidak sependapat dengan saya? Silakan didebat. Saya gak akan debat balik. Ini cuma opini pribadi kok .

Di lain sisi, kesadaran kita akan investasi makin meningkat. Entah karena lapangan pekerjaan makin sulit, merasa jadi karyawan sulit untuk kaya, atau ada alasan lainnya. Yang jelas, dengan berinvestasi/berbisnis kita mengharapkan kehidupan yang lebih baik. Gak heran, sebagian dari kita mulai mengalokasikan dananya untuk berinvestasi. Berbisnis mulai kita anggarkan dalam struktur pengeluaran kita.

Kalo boleh saya gambarkan, strukur pengeluaran kita pada umumnya sbb:

atau

Gambar pertama menunjukkan bahwa seseorang mulai berfikir untuk berinvestasi meskipun ia tidak atau belum memiliki tabungan yang cukup. Sedangkan gambar kedua menunjukkan seseorang berfikir untuk berinvestasi setelah biaya hidup dan tabungan telah terpenuhi.

Di mana porsi pengeluaran untuk polis asuransi jiwa?

Mungkin asuransi jiwa bagi sebagian kita bukanlah hal yang menarik. Membicarakan kematian, kecelakaan, penyakit kritis dan/atau biaya rumah sakit, bukanlah topik yang menyenangkan untuk dibahas. Dibanding topik soal [misal] banyaknya pengguna hp dan peluang menjual pulsa.

Okelah, kita kesampingkan dahulu soal kecelakaan, penyakit kritis dan/atau biaya rumah sakit [meski survey dari WHO tahun 2002 bahwa 92% orang sebelum meninggal mengalami sakit kritis sebelumnya], kita bahas hal yang pasti akan datang. Yup, kematian [yang merupakan asuransi jiwa dasar]. Gak ada yang tau pasti kapan ia akan datang. Tapi kita sadar bahwa ia PASTI datang. Dan fakta lain berbicara bahwa kematian seorang pencari nafkah akan berakibat hilangnya sumber pendapatan bagi yang berkepentingan. Perlu sebuah JAMINAN untuk dapat menyesuaiakan diri dengan kondisi baru. Seseorang memerlukan asuransi jiwa tidak “hanya” karena ia akan meninggal, tapi juga karena orang yang ia tinggalkan harus tetap hidup bahagia. Saya pribadi lebih senang memprospek seorang tulang punggung dalam sebuah keluarga tanpa mengurangi penilaian bahwa siapa saja membutuhkan polis asuransi jiwa tanpa terkecuali.

Semisal sebuah keluarga memerlukan biaya 5 juta /bulan [= 60 juta /tahun] untuk dapat hidup layak. Andai terjadi sesuatu yang menyebabkan si pencari nafkah tidak dapat memenuhi kebutuhan ini karena sakit kritis, cacat tetap atau meninggal, perlu sesuatu agar standar kehidupan keluarga yang ditinggalkan tidak turun. Dengan cara deposito juga bisa. Anda bunga deposito 10% /tahun, si pencari nafkah setidaknya memiliki warisan 600 juta. Bunga deposito ini setidaknya bisa digunakan selama 5 – 10 tahun dengan asumsi setelah 5 – 10 tahun keluarga yang ditinggalkan sudah mampu untuk mencari penghasilan sendiri. Di sinilah Unit Link berperan. Karena angka 600 juta bagi sebagian besar masyarakat kita tentu bukan angka yang sedikit.

Dengan menyisihkan sebagian dari tabungan, maka bisa membantu secara finansial seandainya si pencari nafkah sudah gak mampu lagi untuk mencari nafkah. Entah karena sakit kritis, cacat atau meninggal. Dengan cara ini, diharapkan biaya hidup, tabungan dan/atau investasi tidak akan terganggu apapun yang terjadi dengan si pencari nafkah. Dengan menyisihkan 2 juta /bulan [24 juta /tahun], saya rasa bisa dapat Uang Pertanggungan sebesar 600 juta. Dengan cara dicicil seperti ini akan terasa lebih ringan jika dibandingkan kita harus mempersiapkan uang 600 juta sekaligus. Dan jika si pencari nafkah mengalami hal yang tidak diinginkan setelah tahun pertama menabung, maka “warisan” yang didapat keluarganya akan lebih besar karena Nilai Tunai telah terbentuk. Jika ia toh panjang umur, tetap ia tida akan “rugi”. Malah uang yang ditabung akan dapat kembali [BEP]. Tentu dari hasil investasi Unit Link ini.

Di tempat saya juga masih tersedia kok asuransi tradisional [non-Unit Link]. Tapi jujur, sampai saat tulisan ini saya buat, saya belum pernah menjualnya. Mungkin karena asuransi ini kurang menarik dibandingkan dengan Unit Link .

Sebagai sahabat [yang jika sama-sama panjang umur akan mendampingi mereka sampai usia 99 tahun], saya gak pernah menghalangi nasabah ataupun calon nasabah untuk membeli asuransi non-Unit Link + RD secara terpisah. Silakan saja . Ini hanya soal selera. Ibarat ayam goreng dengan tepung, ada yang lebih suka ayam goreng yang ditepungi tapi ada juga yang lebih suka ayam goreng + tepung goreng [contohlah bakwan] secara terpisah. Contohnya kurang oke ya? Gimana dengan kopi susu dan kopi + susu terpisah? Mana yang lebih menguntungkan? Mana yang lebih enak? Ayam goreng ditepungi / kopi susu? Atau ayam goreng + tepung goreng / kopi + susu terpisah? Masing-masing punya argumen. Gak ada yang bersifat absolut seperti 1 + 1 PASTI = 2. Meski bisnis/investasi bersifat itung-itungan, tapi hasilnya sulit dipastikan seperti ilmu matematika.

Bukan untuk menggurui. Hanya opini pribadi. Semoga membantu.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.